Jeritan Ruh: Ketika Penyesalan Tak Lagi Didengar
InfoLSI| Sukabumi
Malam itu sunyi....Tidak ada lagi detak jam, tidak ada suara manusia.
Hanya kegelapan dan kesendirian.
Di sebuah liang kubur yang sempit, sebuah ruh menjerit—jeritan yang tidak terdengar oleh telinga manusia, tetapi mengguncang alam barzakh. Ia baru saja berpisah dari jasad yang selama puluhan tahun ia tinggali.
- Saat Ruh Dicabut
Ketika sakaratul maut datang, ruh itu merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dunia menjauh, suara keluarga memudar, dan pandangan mengabur.
Allah berfirman:
“Dan sekiranya kamu melihat ketika orang-orang zalim dalam sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangan mereka (sambil berkata): ‘Keluarkanlah nyawamu!’”
(QS. Al-An’am: 93)
Ruh itu menolak keluar.
Ia berpegangan pada jasadnya.
Ia belum siap.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Sesungguhnya orang kafir atau orang durhaka dicabut ruhnya seperti besi berduri yang ditarik dari kapas basah.”
(HR. Ahmad)
Jeritan pertama pun terjadi—jeritan perpisahan dengan dunia.
- Kesadaran yang Terlambat
Saat ruh terangkat, barulah ia sadar:
.Shalat yang ditunda
.Dosa yang dianggap remeh
.Taubat yang selalu “nanti”
Kini semua nyata.
“Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat beramal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.”
(QS. Al-Mu’minun: 99–100)
Namun jawaban itu datang dingin dan tegas:
“Sekali-kali tidak! Itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja.”
Jeritan kedua pun pecah—jeritan penyesalan.
- Kesendirian di Alam Barzakh
.Kubur menutup.
.Tanah merapat.
.Dunia benar-benar berakhir.
Ruh itu kini sendiri bersama amalnya.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Sesungguhnya kubur itu bisa menjadi taman dari taman-taman surga atau lubang dari lubang-lubang neraka.”
(HR. Tirmidzi)
Bagi ruh yang lalai, kubur menjadi sempit.
Gelap ,Menyesakkan.
Ia mendengar suara mengerikan—Munkar dan Nakir.
Pertanyaan diajukan:
. Siapa Tuhanmu?
. Apa agamamu?
. Siapa nabimu?
Lidahnya kelu.
Jawaban yang dulu sering ia dengar, kini hilang.
Jeritan ketiga pun terdengar—jeritan ketakutan.
- Ruh Melihat Amal Sendiri
Tiba-tiba, muncul sosok yang buruk rupa dan berbau busuk.
“Aku adalah amalmu,” kata sosok itu.
Ruh itu menangis: “Pergilah! Aku tidak menyukaimu!”
Namun sosok itu menjawab: “Aku bersamamu sampai hari kiamat.”
Rasulullah ï·º bersabda:
“Jika seorang hamba diletakkan di kuburnya, maka datang kepadanya amalnya…”
(HR. Ahmad)
Kini ia paham:
Amal tidak bisa ditinggalkan.
Jeritan keempat pun muncul—jeritan kehinaan.
- Melihat Hari Kiamat dari Jauh
Waktu berlalu—entah berapa lama.
Ruh melihat bayangan hari besar: Hari Kiamat.
Ia melihat manusia dibangkitkan.
Melihat api neraka menyala.
Melihat surga dari kejauhan.
Allah berfirman:
“Dan mereka berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya kami dahulu taat kepada Allah dan taat kepada Rasul.’”
(QS. Al-Ahzab: 66)
Tangisan berubah menjadi jeritan panjang—jeritan harapan yang mustahil.
- Pesan Jeritan Ruh kepada yang Hidup
Seandainya ruh itu bisa berbicara kepada yang hidup, ia akan berkata:
“Jangan tunda taubat.”
“Jangan remehkan dosa kecil.”
“Jangan tertipu dunia.”
Rasulullah ï·º bersabda:
“Orang yang cerdas adalah yang menundukkan nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”
(HR. Tirmidzi)
Jeritan yang Menjadi Peringatan
Jeritan ruh bukan untuk ditakuti,
tetapi untuk menyadarkan.
Selagi ruh masih di jasad:
. Pintu taubat terbuka
. Air mata masih diterima
. Doa masih sampai ke langit
Allah berfirman:
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Karena jeritan paling menyakitkan
adalah jeritan yang terlambat .
