BREAKING NEWS

Beberapa hal ini terjadi ketika anak dan istri mu menuntutmu di akhirat nanti

InfoLSI | Sukabumi

Di Padang Mahsyar, matahari didekatkan sejauh satu mil. Keringat manusia menggenang sesuai dosa dan amalnya. Ada yang sebatas mata kaki, ada yang sampai dada, ada pula yang tenggelam oleh amal buruknya sendiri.


Seorang lelaki berdiri gemetar. Wajahnya pucat. Tangannya kosong. Amal yang ia banggakan di dunia tak seberat debu di timbangan.

Tiba-tiba terdengar suara yang membuat lututnya lemas.

“Ya Rabb… inilah ayah kami.”

Ia menoleh.

Itu anak-anaknya.

Di belakang mereka berdiri istrinya.

Bukan untuk membela.

Bukan untuk memberi syafaat.

Tetapi untuk MENUNTUT.

- TUNTUTAN ANAK-ANAK

• Anak pertamanya melangkah maju.

“Ya Allah… ayah kami memberi makan,

tapi tidak mengajarkan shalat.”

• Anak kedua berkata dengan suara gemetar:

“Ia memberi kami pakaian,

tapi tidak mengenalkan Al-Qur’an.”

• Anak ketiga menangis:

“Kami tumbuh dengan dunia,

tapi buta tentang akhirat.”

• Lalu mereka berkata serentak:

“Ya Allah, tuntutlah hak kami darinya.”

Maka teringatlah firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

(QS. At-Tahrim: 6)

Ia diperintah menjaga,

namun ia sibuk mengejar dunia.


- TUNTUTAN ISTRI

Istrinya melangkah.

Tidak marah. Tidak berteriak.

Justru suaranya lebih menakutkan karena penuh luka.

“Ya Rabb…

aku taat padanya di dunia.

Tapi ia tidak menuntunku kepada-Mu.”

“Ia sibuk bekerja,

tapi lupa menjadi imam.”

“Ia pulang membawa lelah,

tapi tak pernah membawa doa.”

Lalu ia berkata:

“Aku menuntut hak kepemimpinan yang ia abaikan.”

Maka teringatlah hadits Rasulullah ﷺ:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ia pemimpin…

tapi tak pernah memimpin ke surga.

- AMAL DIPINDAHKAN


Malaikat berkata:

“Ambil dari amalnya.”

Shalat sunnahnya berpindah.

Sedekahnya berpindah.

Puasa sunnahnya berpindah.

Hingga ia berteriak:

“Ya Allah, amalanku habis!”

Namun jawabannya datang:

“Masih ada dosamu.”

Maka dosa anak-anaknya dipindahkan kepadanya , Dosa istrinya dipindahkan kepadanya.

Inilah makna sabda Rasulullah ﷺ:


“Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia menzalimi orang lain… lalu amalnya diambil, hingga jika habis, dosa mereka ditimpakan kepadanya.”

(HR. Muslim)

Dan keluarga adalah yang paling berhak menuntut.

- SAAT ITU IA MENANGIS

Ia menangis dan berkata:

“Seandainya dulu aku ajari shalat…”

“Seandainya dulu aku luangkan waktu mengaji…”

“Seandainya dulu aku menjadi ayah, bukan hanya pencari nafkah…”

Namun penyesalan itu terlambat.

Allah telah berfirman:

وَأَنذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ

“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan.”

(QS. Maryam: 39)

Hari itu…

hari ketika penyesalan tidak mengubah apa pun.

- RENUNGAN YANG MENUSUK HATI

Wahai ayah…

Wahai suami…Di dunia,

anak dan istrimu bergantung padamu Di akhirat,mereka bisa menjadi penuntutmu.

Maka sebelum hari itu tiba:

• Jadilah imam, bukan hanya pencari uang

• Ajari shalat, bukan hanya disiplin dunia

• Kenalkan Allah, sebelum dunia mengenalkan segalanya

Karena lebih baik capek mengajari keluarga di dunia, daripada hancur dituntut mereka di akhirat. (Red)

Posting Komentar